
Kepala KUA Simpangkatis hadiri kegiatan Ruwahan di Balai Desa Simpangkatis
Kepala KUA Simpangkatis hadiri kegiatan Ruwahan di Balai Desa Simpangkatis
Simpangkatis- Ratusan warga Desa Simpangkatis, Bangka Tengah, berkumpul di balai desa untuk merayakan tradisi keagamaan Ruwahan. Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat tali silaturahmi sekaligus melestarikan budaya lokal Sepintu Sedulang. Kegiatan yang dipusatkan di Balai Desa Simpangkatis dihadiri langsung oleh Kepala KUA Simpangkatis, Romanza, S.H.I., bersama jajaran perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga setempat.
Tradisi Ruwahan ini bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, melainkan menjadi wadah krusial untuk mempererat hubungan antarwarga. Semangat kebersamaan semakin terasa melalui implementasi nilai budaya Sepintu Sedulang. Tradisi khas Bangka Belitung ini menekankan pada kekompakan dan gotong royong, di mana setiap rumah membawa dulang (talam makanan) untuk dinikmati bersama-sama.
Romanza menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat Desa Simpangkatis yang tetap konsisten melestarikan tradisi Ruwahan sekaligus menjaga nilai-nilai gotong royong di era modern.
"Tradisi keagamaan seperti ini memiliki kontribusi besar dalam memperkuat hubungan sosial, membangun empati, serta menjaga keharmonisan di tengah masyarakat," ujar Romanza dalam keterangannya, Selasa (3/2/1016).
Ia juga menegaskan komitmen instansi yang dipimpinnya dalam mendukung kegiatan kemasyarakatan.
"KUA Simpangkatis siap mendampingi dan mendukung setiap kegiatan keagamaan masyarakat, baik untuk pelestarian tradisi maupun untuk mempererat silaturahmi antara KUA dan warga," tambahnya.
Menurut Romanza, nilai-nilai yang terkandung dalam Ruwahan sangat penting untuk menjaga kerukunan dan memperkuat fondasi kehidupan sosial yang berbasis pada nilai keagamaan dan kearifan lokal. Hal ini menjadi benteng bagi masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial di tingkat desa.
Acara ditutup dengan momen makan bersama dan ramah tamah. Suasana hangat menyelimuti balai desa saat warga dari berbagai lapisan duduk bersila, berbagi hidangan, dan bercengkerama. Kegiatan ini menegaskan bahwa tradisi keagamaan di Simpangkatis tidak hanya bernilai spiritual bagi individu, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam menjaga harmonisasi sosial. (es/umm)