
Kepala KUA Kecamatan Simpangkatis pantau langsung kegiatan panen sawit di lahan wakaf produktif
Kepala KUA Kecamatan Simpangkatis pantau langsung kegiatan panen sawit di lahan wakaf produktif
Simpangkatis- Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Simpangkatis, Romanza, memimpin langsung pendampingan panen kebun sawit di lahan wakaf produktif Desa Katis, Kecamatan Simpangkatis, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program inkubasi wakaf produktif yang dikelola oleh Yayasan Al Ikhlas Desa Katis. Panen ini menjadi simbol nyata dari ikhtiar merawat amanah wakaf agar terus tumbuh dan memberi manfaat berkelanjutan bagi umat.
"Wakaf produktif merupakan salah satu instrumen strategis dalam membangun kemandirian ekonomi umat," ujar Romanza.
Menurut Romanza, melalui program inkubasi ini, aset wakaf diharapkan tidak hanya terjaga keberadaannya secara fisik, tetapi juga mampu menghasilkan nilai tambah. Hasil dari produktivitas lahan ini nantinya akan disalurkan untuk kepentingan sosial, keagamaan, dan kemaslahatan masyarakat luas.
Turut hadir dalam kegiatan ini jajaran pengurus Yayasan Al Ikhlas Desa Katis, mulai dari Ketua Yayasan, Sekretaris, hingga Ketua Masjid setempat. Kehadiran para tokoh ini mempertegas sinergi antara KUA sebagai pembina dengan yayasan sebagai pengelola (nazhir).
Romanza menekankan bahwa pendampingan ini bukan sekadar memantau hasil produksi secara kuantitas, melainkan memastikan tata kelola berjalan sesuai koridor hukum dan agama.
"Kami ingin memastikan pengelolaan wakaf produktif berjalan sesuai prinsip syariah, tertib administrasi, serta dikelola secara profesional dan bertanggung jawab," tegasnya.
Panen sawit di Desa Katis ini menjadi bukti konkret bahwa aset wakaf yang dikelola dengan sungguh-sungguh dapat menghadirkan maslahat nyata. Setiap tandan buah segar (TBS) yang dipanen mengandung nilai ibadah karena di dalamnya terpatri amanah dari wakif (pemberi wakaf) dan kerja keras nazhir (pengelola).
Hasil yang diperoleh tidak hanya bermakna secara ekonomi untuk operasional yayasan atau masjid, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi berbasis umat di tingkat kecamatan.
KUA Simpangkatis berkomitmen untuk terus meneguhkan perannya sebagai pendamping dan pembina. Diharapkan, model inkubasi wakaf produktif di Yayasan Al Ikhlas ini dapat menjadi percontohancbagi desa-desa lain di Bangka Belitung dalam mengelola aset wakaf secara amanah, produktif, dan membawa keberkahan lintas generasi. (es/umm)