
Kepala KUA Simpangkatis hadiri kegiatan Nujuh Hari di Desa Beruas
Kepala KUA Simpangkatis hadiri kegiatan Nujuh Hari di Desa Beruas
Simpangkatis- Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Simpangkatis terus berkomitmen untuk lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk lebih mengenal dan memahami kebutuhan masyarakat. Hal ini dibuktikan oleh Kepala KUA Simpangkatis, Romanza, S.H.I, yang turun langsung berbaur dengan warga dalam tradisi Nujuh Hari di Desa Beruas, Bangka Tengah, Selasa (27/1/2026).
Kehadiran Kepala KUA ini adalah bentuk dukungan nyata negara terhadap pelestestarian tradisi dan adat. Romanza menegaskan bahwa tidak ada sekat antara pemerintah dan masyarakat, melainkan negara hadir dalam setiap aspek spiritual dan kultural masyarakat.
Tradisi Nujuh Hari mengandung filosofi semangat sepintu sedulang yang menjadi potret nyata atas kekuatan sosial yang hidup di tengah masyarakat, terutama soal kepedulian terhadap sesama yang selaras dengan nilai-nilai islam.
Dalam kesempatan tersebut, Romanza selain memimpin doa, ia juga memanfaatkan waktu untuk menjalin ikatan silaturahmi, berbincang dengan tokoh masyarakat dan warga sekitar. Langkah ini tentunya diharapkan dapat membangun kepercayaan publik bahwa KUA adalah mitra masyarakat dalam urusan keagamaan yang solutif dan responsif.
"KUA selalu berhubungan dengan masyarakat setiap harinya. Tentu, kami harus menjadi instansi yang paling mengerti kondisi umat. Melalui silaturahmi ini, kami membangun kedekatan emosional. Jika masyarakat sudah merasa dekat, mereka tidak akan sungkan untuk datang dan berkonsultasi mengenai apa pun, mulai dari masalah pernikahan hingga bimbingan keagamaan lainnya," papar Romanza saat dihubungi tim humas.
Dalam keterangannya, duduk bersama warga di atas tikar dalam suasana duka maupun syukur adalah cara terbaik untuk memahami realitas sosial. Ia meyakini bahwa peningkatan layanan di KUA tidak bisa hanya dirancang dari balik meja kantor, melainkan harus berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan.
"Dengan hadir langsung di tengah tradisi masyarakat seperti ini, kami bisa mendengar langsung apa yang menjadi keluhan, harapan, dan kebutuhan warga. Masukan-masukan informal inilah yang menjadi acuan penting bagi kami untuk mengevaluasi dan meningkatkan standar pelayanan di KUA, termasuk memudahkan kami dalam mensosialisasikan program-program keagamaan maupun regulasi terbaru secara lebih humanis." pungkasnya.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa bersama, memberikan harapan bagi keluarga yang ditinggalkan agar tetap kuatRomanza berpesan agar nilai gotong royong yang tercermin dalam tradisi Nujuh Hari terus ditanamkan kepada generasi muda. Ia berharap harmoni antara pelayanan prima dari pemerintah dan kuatnya kearifan lokal dapat terus berjalan beriringan. (es/umm)