JAWAB TANTANGAN ZAMAN, INI 4 KUNCI KONSISTENSI SHOLAT SEJAK DINI VERSI PENYULUH AGAMA KUA KOBA

Tim Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Koba berikan empat kunci konsistensi sholat di hadapan siswa SDN 16 Koba

Tim Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Koba berikan empat kunci konsistensi sholat di hadapan siswa SDN 16 Koba

Koba- Pembentukan karakter dan mental remaja terus digalakkan sebagai langkah menghadapi fenomena degradasi moral di kalangan remaja yang sering kali berakar dari rapuhnya fondasi spiritual sejak masa kanak-kanak. Menjawab tantangan tersebut, tim Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Koba melakukan terobosan edukasi anak di SD Negeri 16 Koba, Desa Kurau Barat, Jumat (23/01/2026).

Kegiatan ini menyoroti masalah mendasar tentang bagaimana cara menjaga konsistensi sholat agar tidak sekedar menjadi rutinitas yang hilang timbul. Kegiatan yang dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Isra' Mi'raj ini menjadi salah satu upaya KUA Kecamatan koba dalam menanamkan pemahaman ibadah sholat sebagai tiang agama dan pembentukan kebiasaan ibadah sejak usia dini.

Di hadapan ratusan siswa, Nadia Saphira, S.Sos., salah satu penyuluh dari KUA Koba, membedah formula khusus agar ibadah sholat menjadi kebutuhan, bukan beban. Menurutnya, konsistensi tidak datang tiba-tiba, melainkan harus dibangun dengan empat prinsip utama.

"ada empat cara agar kita bisa konsisten dalam sholat, melaksanakan sholat tepat waktu, meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT, melaksanakan sholat dengan sungguh-sungguh tidak main-main, serta menjaga kekhusyukan dalam sholat,” jelas Nadia di hadapan para siswa.

Senada dengan itu, Isnaini, S.Sos.I. menambahkan bahwa sholat adalah instrumen manajemen diri yang paling efektif.

“Jika anak-anak sudah dibiasakan memahami makna sholat sejak sekarang, insyaallah mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak baik,” tuturnya.

Narasi ini diperkuat oleh Kepala SDN 16 Koba, Bekti Wiji Harini, S.Pd.SD. Ia melihat kehadiran penyuluh profesional dari KUA memberikan warna baru dalam pembinaan karakter di sekolahnya.

"Kami sangat mengapresiasi metode komunikatif ini. Penting bagi siswa kami untuk memahami bahwa sholat adalah identitas dan pembentuk karakter, bukan sekadar gerakan fisik," ujar Bekti.

Sebagai penutup, para siswa diajak untuk makan bersama. Dengan membawa bekal masing-masing, mereka diajarkan tentang filosofi sederhana tentang berbagi lauk pauk dengan teman disebelahnya. 

Momen makan bersama ini menjadi simbol bahwa hubungan kepada Tuhan (Hablum Minallah) melalui sholat harus berbanding lurus dengan hubungan baik sesama manusia (Hablum Minannas).

Melalui momentum Isra Mikraj di Desa Kurau Barat ini, KUA Kecamatan Koba berharap pesan tentang konsistensi sholat ini dapat menjadi fondasi akar yang kuat menghadapi dinamika tantangan zaman, memastikan generasi emas 2045 di Bumi Selawang Segantang tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual. (nads/umm)

LINK TERKAIT